Jujur itu ngga ada untungnya

pinokio

Jujur itu lebih jauh,
Saat kita terpaksa mencari putaran jalan yang masih 500 m setelah lampu merah, padahal di depan mata kita ada ‘celah’ untuk berpindah jalur tepat dibawah rambu larangan berputar

Jujur itu ngga ada untungnya,
Saat kita meminta angka kuitansi senilai barang yang perusahaan beli, padahal bisa saja toh kita minta kuitansi kosong melompong

Jujur itu nyakitin,
Saat kita harus mengatakan kitalah yang bertanggungjawab atas semua kesalahan, padahal bisa saja kita bilang bahwa bawahanlah yang kurang berhati-hati mengerjakan tugasnya.

Jujur itu pas-pasan,
Saat kita mencantumkan jumlah hari sebenarnya durasi pada surat perjalanan dinas, padahal kita bisa saja menambahkan durasi agenda visitasi ditambah alasan city tour

Jujur itu melelahkan,
Saat kita harus memberikan kursi kita kepada orang tua renta yang berdiri miring hingga menyentuh bahu kita, padahal bisa saja kita berpura-pura tertidur lelah mengikuti laju kereta listrik.

Jujur itu serasa membuang uang,
Saat kita harus mengembalikan dompet yang terjatuh di kursi belakang taxi kita, padahal bisa saja kita mengabaikan lembaran KTP terselip di dalamnya.

Jujur itu alamat dimarahi,
Saat bapak kita melihat hasil ujian akhir semester ini tidak lebih dari jumlah sebelah jari tangan, padahal bisa saja kita menyiapkan contekan kecil di balik lembar soal kala ujian dua minggu yang lalu.

Tapi ingatlah kawan, jujur itu jauh lebih menenangkan hati,
Kala kita harus menerima apa yang sepatutnya menjadi hak kita dan memberikan apa yang sepatutnya menjadi hak orang lain.
Karena setiap perbuatan akan kembali lagi ke dalam diri walau dalam bentuk yang berbeda sekalipun.
Pohon saja tidak akan berbuah ranum bila kita tidak menanamkannya di tanah yang subur.

So, mendingan jujur atau mendingan gelisah

buat yang males ngga jujur..semangaat!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *