Manajemen Zakat Profesional

IMG00552-20111119-1548Kini zakat semakin banyak yang menyadari sebagai salah satu potensi yang harus dikelola secara serius. Bila sebelumnya zakat hanya sering disebut-sebut saat bulan Ramadhan, namun tidak demikian dengan sekarang. Bisa jadi hal ini disebabkan karena semakin banyaknya lembaga yang serius mengelola zakat secara profesional , alhasil mereka telah memberikan contoh kepada masyarakat bahwa zakat memiliki peran yang luar biasa. Tidak sedikit rumah sakit yang dimana seluruh pasiennya yang berasal dari kalangan tidak mampu dapat menerima pelayanan dengan 0 rupiah, pun banyak sekolah yang kini telah membebaskan biaya kepada siswa yang tidak mampu alias gratis. Lalu dari mana mereka mendapatkan sumber daya financial, jawabannya ialah zakat.

Yang menarik dalam satu bulan kemarin, kami dihubungi oleh dua lembaga yang memiliki maksud dan tujuan serupa. Diujung telepon mereka mengatakan, bahwa di lembaga  tempat  mereka beraktivitas berkeinginan mengelola zakat profesi secara serius namun belum tahu harus memulai dari titik mana. Yang satu berasal dari Sebuah Perusahaan perkebunan di Sumatera Utara sedang satunya lagi ialah sebuah masjid yang berada di kawasan perumahan di bilangan Ciledug Tangerang.

4 (empat) sendi manajemen zakat

Bila sebuah lembaga atau perusahaan yang ingin mempraktekkan manajemen pengelolaan zakat secara profesional, maka haruslah memperhatikan 4 (empat) sendi manajemen zakat.

Pertama, sendi fiqh zakat. Secara simple zakat bisa didefinisikan sebagai sebuah nilai tertentu yang dikeluarkan oleh individu/kelompok tertentu  untuk diberikan kepada pihak tertentu sesuai dengan aturan  tertentu. Artinya pengelolaan zakat haruslah mengikuti syariah yang sesuai dengan Al Qur’an dan hadits. Mengelola zakat secara professional, maka mereka harus memiliki orang yang paham mengenai fiqh zakat agar dalam pelaksanaannya nanti tidak menyalahi syariah yang sudah ada. Orang tersebut bisa berasal dari pengurus internal  yang sudah ada, atau menunjuk individu lain untuk memberikan pengawasan terhadap pengelolaan dana zakat agar sesuai syariah, mereka biasa disebut sebagai  Dewan Pengawas Syariah.

Kedua, sendi manajemen penghimpunan. Manajemen Penghimpunan atau yang lazim biasa disebut fundraising adalah sebuah sendi manajemen yang bertugas merumuskan dan melakukan strategi bagaimana menghimpun atau mengumpulkan dana zakat dari para muzakki agar mereka percaya untuk memberikan zakatnya melalui lembaga kita. Mereka mirip layaknya marketer atau sales pada perusahaan komersil pada umumnya. Output yang harus dihasilkan ialah strategi alat promosi, bisa berupa flyer, brosur, website, newsletter yang bertujuan menjelaskan kemudahan dan manfaat yang muzakki (donator) peroleh bila memberikan zakatnya melalui lembaga kita. Transparansi pelaporan keuangan juga bisa menjadi jurus penghimpunan yang ampuh. Karena mengajak seseorang berzakat melalui lembaga kita pada hari ini akan lebih mudah ketimbang menjaga kepercayaannya agar bulan depan ia tetap berzakat melalui kita.

Ketiga, sendi manajemen pengelolaan. Didalamnya terdapat bidang keuangan dan akuntansi serta bidang kepersonaliaan. Secara singkat sendi ini mengelola sumber daya manusia (amil) serta mengatur sumber daya yang dihasilkan oleh amil itu sendiri yakni dana zakat. Karena ilmu mengelola zakat bisa dikatakan juga sebagai ilmu yang mengelola kepercayaan orang maka pengelolaan dana yang amanah dan  transparan menjadi nilai yang harus dijunjung tinggi. Dana dapat dikelola dengan baik bila lembaga tersebut memiliki mekanisme keuangan yang sehat dan amil yang sehat pula. Untuk memudahkan manajemen  keuangan dan akuntansi zakat, kini sudah mudah ditemui beragam software akuntansi zakat yang siap pakai. Sedang manajemen personalia mengatur layaknya perusahaan pada umumnya, seperti system penggajian serta job description amil.  Bila zakat dikelola secara paruh waktu maka manfaat yang dapat dipetik pun hanya ‘separuh’.  Memiliki amil full time menjadi sebuah keniscayaan bagi sebuah lembaga zakat yang professional.

Keempat, sendi manajemen pendayagunaan. Ilmu mengelola zakat tak ubahnya seperti kemampuan kita dalam mengemas dan memasarkan gagasan atau ide kepada orang lain. Artinya, zakat yang berhasil dihimpun sepatutnya dapat disulap menjadi sebuah program yang berdayaguna secara jangka panjang dan berkesinambungan. Selain disalurkan secara karitas (langsung) pada daerah-daerah terkena bencana misalnya, dana zakat pun sepantasnya mampu melahirkan  program produktif bagi mustahik. Seperti dana bergulir pada ekonomi produktif berbasis masyarakat petani atau peternak, layanan kesehatan massal cuma-cuma, beastudi sarjana bagi dhuafa berprestasi, serta masih banyak lainnya.

Seluruh sendi manajemen zakat tersebut bila diaplikasikan oleh sebuah organisasi pengelola zakat, insya Allah akan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk menyalurkan zakat profesinya melalui lembaga, wallahu ‘alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *