Meninggalkan dunia perbankan, Maya memilih melakukan ini bersama para penyintas

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa ini tepatlah kiranya tersematkan kepada Maya Sita. Sahabat saya, meski belum genap setahun mengenalnya di dunia filantropi namun sangat tegas goresan dedikasinya.

Meninggalkan dunia perbankan, Maya memilih melakukan ini bersama para penyintas

Memutuskan untuk meninggalkan the comfort zone di pekerjaan sebelumnya, bertahun-tahun menjadi seorang bankir hingga berada di puncak karir tak menyurutkan langkah untuk berhijrah. Ingin menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain, penguat apa yang menjadi ‘why’ nya kenapa dia bisa berdiri di titik ini sekarang. Di dunia kemanusiaan, yang tidak mengenal waktu, harus siap di segala medan juang.

Berlatar belakang pendidikan master psikologi, Maya kini dipercaya sebagai barisan top management di sebuah lembaga filantropi Indonesia berkelas dunia. Namun, bukan melulu mau bekerja di belakang meja saja ia habiskan waktu. Maya tak ragu untuk ikut terjun ke medan bencana.

Lombok lah yang ia pilih untuk medan jihad nya. Selang beberapa hari gempa dahsyat meluluhlantakkan daerah tersebut, Maya bersama puluhan relawan kemanusiaan, turun tangan membantu para korban. Peran yang Maya ambil ialah menjadi tim darurat respon dan transisi recovery untuk dukungan psikososial untuk para penyintas, khususnya ibu dan anak-anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) disebutkan bahwa “sintas” termasuk kata sifat, artinya “terus bertahan hidup” atau “mampu mempertahankan keberadaannya”. Penyintas diartikan sebagai terus bertahan hidup. Artinya yaitu orang yang selamat dari suatu peristiwa yang mungkin dapat membuat nyawa melayang atau sangat berbahaya. Penyintas adalah padanan kata survivor dalam Bahasa Indonesia.

Sobat UC, saya mau share beberapa prinsip perjuangan yang nyata telah Maya lakukan sebagai tim kemanusiaan untuk korban bencana gempa Lombok.
Meninggalkan dunia perbankan, Maya memilih melakukan ini bersama para penyintas

1. Harus ada batasan waktunya untuk memandang penyintas selaku “korban” agar mereka segera berdaya setelah bencana dan bahkan menjadi lebih baik bukan menyisakan perilaku atau budaya yang kurang produktif.

2. Support psikologis sangat diperlukan untuk menstabilkan kembali emosi anak dari kondisi kondisi distressnya atau membantu anak untuk tidak mengalami distress berkepanjangan (trauma). Pemberian support psikologis dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk orang tua dan pihak-pihak yang dekat dengan anak.

3. Kadernisasi orang tua, tokoh agama dan masyarakat, relawan lokal, relawan organisasi kemanusiaan dan ustadz lokal untuk menjadi agent agent konselor. Psikoterapi sederhana untuk manajemen stress, tehnik relaksasi, mitigasi bencana, parenting anak di masa bencana.

4. Membangun keterampilan resiliensi, bersyukur dan tetap positif untuk remaja dan orang tua.

5. Memetakan penyintas kategori akut stress dan post traumatic disorder untuk ditindak lanjuti

Sobat, tak berlebihan tentu bila lima hal di atas dapat menjadi kerangka aksi bagi tim kemanusiaan dalam bidang psikososial. Tidak jarang Maya tetap mengingatkan saya dan teman-teman seperjuangan dengan kata-kata baik ‘Kebahagiaan itu ada di dalam hati, rasa penuh syukur akan menyuburkannya’. Bahwa aktifitas kita di manapun itu, di organisasi apapun… junjunglah langit di atasnya dan tetap memijak bumi di bawahnya dengan sepenuh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *