Mintalah

memintaNyaKira-kira sebulan yang lalu, putra saya yang kini telah berusia 2,7 tahun tiba-tiba saja meminta dibelikan mainan motor yang baru karena dilihatnya mainan yang lama sudah agak rusak. Dengan perkataan seadanya ia mengutarakan yg menjadi keinginannya. Terus terang saja saya agak kaget mendengarnya, maklumlah baru kali pertama ia meminta dibelikan mainan. Selama ini saya membelikannya mainan tanpa diminta olehnya, sama halnya naluri yang dimilliki orang tua manapun kepada anak yang dikasihinya. Akhirnya saya berujar di dalam hati untuk secepatnya membelikan mainan baru yang diminta

Keesokan harinya di kantor, ingatan selalu tertuju suara anak saya yang meminta mainan, akibatnya yaah tumben banget hari itu kenapa saya jadi senyum-senyum sendiri. Semangat beraduk rasa ngga sabar ingin secepatnya memperlihatkan mainan baru yang ia minta.

Selepas kerja, saya pun mampir ke toko mainan yang memang berada di tengah rute perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Di sana saya langsung menyisir pajangan mainan yang ada, mencari mainan motor. Alhamdulillah, tanpa membutuhkan waktu lama saya berhasil menemukannya. Saya ambil mainan tersebut dan segera menghampiri penjaga toko untuk membelinya.

Namun belum selesai bertransaksi, mata ini tetiba tertuju ke mainan lain yakni mainan truk berwarna merah yang terletak di dekat kaki kiri saya. Sontak terfikir, seru kali ya kl nanti selain saya kasih mainan motor ini, juga saya kejutkan dengan hadiah tambahan mainan truk untuknya di rumah. Dan akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua mainan tersebut, yakni mainan motor yang ia minta, dan tambahan sebuah mainan truk tersebut. Alhasil sepanjang sisa perjalanan pulang, saya tak sabaran untuk segera menyerahkan ini semua kepadanya, pasti ia akan senang..girang dan tertawa bila menerimanya.

Dari kejadian yang saya alami tersebut, mengingatkan saya akan firman Allah yang berbunyi, ”Berdoalah kepadaKu, maka pasti akan Aku kabulkan”. Saya mengibaratkan kasih sayang orang tua kepada anak hampir menyamai kasih sayang Allah kepada setiap hambaNya yang dicintai.

Analoginya begini;

Pertama, perasaan saya saat membelikan mainan karena diminta ternyata lebih menyenangkan ketimbang membelikan karena inisiatif sendiri. Terbayang sepertinya Allah pasti tersenyum saat memberikan nikmat berupa rezeki dan sehat karena diminta oleh hamba yang Ia cintai ketimbang Ia memberikan itu semua tanpa diminta.

Kedua, karena diminta maka saya tak ragu untuk memberikan bonus atau lebih dari yang diminta karena mengharap kegembiraan yang lebih, berbeda bila atas dasar inisiatif sendiri yang biasanya saya membelikan mainan yaah sejumlah anggaran yang tersedia. Jadi terbayang, mudahnya Allah memberikan balasan nikmat lebih kepada Hambanya yang berdoa (baca: meminta)

Pertanyaan sederhana, sudah berapa sering kita merasakan mendapat nikmat atau rezeki yang amat tidak diduga-duga oleh kita sebelumnya, mungkinkah itu pertanda bonus yang ia berikan kepada hamba yang Ia sayangi.

Ketiga, perasaan saya saat diminta oleh anak sendiri, terus terang saja saat itu saya semakin menganggap bahwa dialah anakku, seolah ada speaker stereo mengarah ke telinga yang mengatakan bahwa saya adalah orang tua yang sepatutnya selalu membuat ia merasa senang dan tertawa, tak rela sedikitpun membuatnya bersedih. Hal ini juga terbayang, bagaimana Allah semakin menganggap kita sebagai hambaNya bila kita selalu berdoa..memohon kepadaNya. Semakin sering kita meminta, maka semakin dekat Ia dengan kita.

Saya meyakini bahwa amat menyedihkan bila kita sebagai orang tua bila sepanjang hidup ini tidak pernah diminta oleh anak kita sendiri, apapun…bahkan selain mainan, seperti diminta bercanda..diminta jalan-jalan bareng..diminta tidur disampingnya…diminta dimandikan…diminta menemani belajar… diminta makan kue kesukaannya bareng-bareng dan masih banyak lagi permintaan lain.
Begitupun, Allah pasti juga akan sedih bila melihat kita sebagai hamba yang Ia ciptakan justru amat jarang meminta atau berdoa kepadaNya.
Kenapa bisa?! Padahal kita pun tahu, tidak ada yang menandingi kasih sayang Allah kepada hamba yang Ia cintai.. Masihkah keangkuhan menutup-nutupi kerapuhan kita sebagai hamba yang membutuhkan kasih sayangNya.
Dan kini, alasan apalagi yang membuat kita enggan berdoa kepadaNya, setidaknya tiap selepas sholat di lima waktu.
ayo mulailah biasakan meminta kepadaNya, karena ia akan lebih menganggapmu.

‘sebuah pengalaman hidup bersama avisenna al farisi’
April 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *