Penetasan Kemiskinan

ceraiJakarta dan beberapa kota besar di Indonesia lainnya adalah tempat subur untuk diserang berbagai penyakit masyarakat. Para kaum hawanya kini justru lebih bangga menyandang predikat wanita karir ketimbang ibu rumah tangga. Dari 24 jam waktu yang tersedia setiap harinya, mereka sudah menghabiskan delapan jam di kantor, enam jam untuk tidur, tiga jam harus tersita dalam kemacetan saat pulang pergi bekerja, dua jam mungkin juga akan ia habiskan untuk mengurusi dirinya, lalu berapa yang tersisa? Lima jam.. Itulah waktu sisa bagi mereka, yang dapat digunakan untuk merajut kasih sayang bersama buah hati, orang tua dan suami. Namun bagi sang buah hati waktu tersebut bisa saja akan semakin sedikit karena terkadang mereka sudah terlelap tidur kala orang tuanya sampai di rumah sambil memikul letih, begitupun esok paginya ia sudah tidak lagi melihat senyum ibunya yang ternyata sudah lebih dulu bergegas ke kantor. Bagaimana dengan sang ayah? Jika sama-sama menyandang predikat serupa maka keadaan tidak berkata beda.

Masalah akan kian rumit, jika dinding keluarga tidak dibangun sepenuh hati oleh para orang tua. Tak jarang para anak menyaksikan drama kekerasan yang dimainkan kedua orang tua mereka yang hanya bermula dari egoisme masing-masing. Merasa paling lelah mencari nafkah untuk keluarga, merasa paling berhak didahulukan untuk istirahat dan merasa paling berhak mengatur. Suami sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai ‘madrasah’ anak-anak kini tak lagi menjadi profesi keren & marketable yang patut digapai. Padahal ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri” (QS. 4:34).Maka tak jarang mereka malah memilih perceraian sebagai langkah akhir demi menjaga reputasi dan harga diri satu sama lain. Nasib anak? Itu sih mudah dibicarakan kemudian bak sebuah rapat koordinasi di perusahaan mereka bekerja. Nasib anak kini tak ubah dengan anak buah di kantornya tempat mereka mencari uang. Sebuah paradigma yang membenamkan bom waktu di lantai keluarga.

Hal ini terjawab oleh Ditjen Bimas Islam Departemen Agama RI dari seluruh data Pengadilan Agama seluruh Indonesia, yakni pada tahun 2004 sudah tercatat 809 izin perceraian yang dikeluarkan, dari 1016 permohonan yang diajukan. Pada tahun 2005 tercatat 803 izin, dari 989 permohonan dan pada tahun 2006 juga tercatat 776 izin dari 1148 permohonan. Terlihat jelas bahwa fenomena perceraian kian marak di tengah masyakarat kita. Dari data tersebut dapat diperkirakan jika setiap keluarga yang bercerai memiliki sedikitnya dua orang anak misalnya, maka mulai tahun 2004 sampai dengan 2006 diperkirakan terdapat 4.446 anak kehilangan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Dengan kata lain sebanyak 4.446 anak menjadi yatim atau piatu secara hukum. Dan jika saja dari total seluruh keluarga yang bercerai tersebut adalah terdapat 50 % keluarga yang memang sebelumnya tergolong keluarga tidak mampu maka akan tercipta 2.223 anak miskin yang ‘yatim/piatu’. Belum lagi dari jumlah keluarga yang ‘miskin mendadak’ karena harta keluarga beralih menjadi milik salah satu dari orang tuanya. Dari angka tersebutlah bermuara sebuah penetasan ratusan bahkan ribuah anak-anak yang kemudian memilih menjadi pengemis lampu merah, pengamen ibu kota dan ABG tuna susila. Hal ini seringkali tercermin dari berita di media, jika satu dari mereka terjaring operasi yustisi maka alasan demi mencari sesuap nasi yang selalu keluar dari bibirnya. Ternyata perceraian mampu mereproduksi kemiskinan dan problematika bangsa.

Tentu banyak solusi yang terbetik di pikiran anda kala melihat fenomena di atas. Namun pernahkah berfikir bahwa ada sebuah cara mudah untuk meminimalisir masalah tersebut sedini mungkin, di awali oleh anda bersama sang buah hati. Yakni dengan mengajarkan Anak Anda bersedekah sedari kecil. Mulailah beri kesempatan kepada anak anda memberikan sedekah kepada seorang pengemis yang mengetuk pintu rumah anda. Biasakan pula tak ragu untuk meminjamkan alat tulis kepada teman sebangku kelasnya yang kebetulan tidak memilikinya dan tidak cerewet menanyakan kapan akan dikembalikan. Tak lupa ajarkan kepada mereka untuk selalu memberikan sesuatu yang terbaik yang dimiliki. Para psikolog telah menyatakan bahwa kebiasaan memberi kepada sesama oleh anak kita akan berpengaruh kepada karakter yang kuat dan tidak individualistis. Mudah bergaul dengan siapapun nantinya, serta mampu berbaik sangka terhadap sesuatu yang kontradiktif dengan keadaan dirinya. Bentuk pengalaman anak dalam suasana enjoy, fun dan full inside games. Manfaat lain yang terkandung ialah keluarga akan lebih tenang, bahagia dan penuh rahmatNya. Karena dengan bersedekah segala bencana, musibah dan penyakit akan teratasi bahkan terobati. Tanpa anda sadari kemudian, anda akan merasa sangat bahagia karena memiliki anak yang sholeh. Dan kelak mereka mampu menyusun untaian doa kepada Allah untuk kita dengan keluguan dan keihklasan mereka. Keluarga sakinah mawaddah warahmah terwujud karena kasih sayang antara anggota keluarga

Insya Allah manfaat besar akan tertuai dengan mengajarkan kebiasaan bersedekah kepada buah hati anda. Keluarga selamat, orang lain mendoakan anda. Mulailah sedini mungkin. Selagi buah hati berada dalam usia emas.
Insya Allah