Pernah jadi korban salah sambung telepon? Atasi dengan 3 cara ini

Pernah jadi korban salah sambung telepon Atasi dengan 3 cara ini 2

Penelepon: Assalamu’alaykum..
Penerima: Alaykumsalaam, ada yang bisa kami bantu Pak?
Penelepon: Saya ingin memesan karangan bunga untuk ucapan Ulang Tahun Perusahaan. Bisa saya pesan untuk dikirim besok pagi?
Penerima: …………
(penerima telepon terdiam bingung, karena telepon tersebut salah sambung. Karena ia bekerja di toko buah, bukan toko bunga)


Pernah mengalami hal seperti itu? Ketika kita menerima telepon dari seseorang, tapi ternyata salah sambung atau salah sasaran yang dimaksud penelepon. Apalagi kalau kita di posisi sebagai front office, telemarketing atau call center di tempat kita bekerja. Bukan sekali dua kali, bahkan sangat sering dan sudah menjadi hal yang lumrah biasa terjadi sehari-hari.

Kali ini, saya ingin berbagi tips bila pernah menjadi korban salah sambung telepon? Atasi dengan 3 cara ini, silahkan dipilih.

Menjawab dan merespon dengan sopan
Ini saya sebut sebagai level dasar yang bisa kita lakukan. Bahwa salah sambung, bisa jadi bukan karena kesengajaan. Berfikir positif menjadi modal utama. Dalam level ini, bila kita diposisi penerima telepon bisa dengan dengan menyampaikan, “Mohon maaf Pak, kami bukan toko karangan bunga. Kami adalah toko buah”. Menjawab dengan sopan, dengan meminta maaf terlebih dahulu dan menjelaskan siapa kita adalah cara yang paling mudah merespon. Lawan bicara pun akhirnya tahu bahwa ia salah sambung dan menutup percakapan. Kita pun bisa kembali melanjutkan aktifitas.
Tidak lebih 2 menit saya kira waktu yang dibutuhkan. Gak sulit kan.

Merespon dengan sopan dan membantu yang dibutuhkan.
Tidak hanya menjawab dan meresponnya dengan baik. Bahkan kita membantu lawan bicara mencarikan apa yang tengah ia butuhkan. Di level kedua ini, cara kita bisa meresponnya selain seperti yang level dasar di atas dan ditambah dengan menyampaikan misalnya “Bila yang Bapak maksud adalah toko bunga, kebetulan di blok jalan seberang memang ada juga toko bunga. Saya bisa bantu carikan nomor teleponnya bila Bapak mau menunggu sebentar”. Dalam situasi ini, bisa jadi memang kita menyimpan nomor telepon tersebut di phone book, atau kita mencoba bertanya ke teman kerja yang lain yang mungkin saja tahu. Tapi jangan lupa, bantu uji kevalidan nomor tersebut dengan kita mengkontaknya terlebih dahulu. Atau cara yang paling jadul kita minta bantuan ke 108. Intinya, ada usaha lain yang kita upayakan demi untuk membantu penelepon tersebut. Perlu sumber daya lebih untuk kita bisa berada pada level ini.

Membantu yang dibutuhkan dan mengkonfirmasikannya.
Level ke tiga ini, saya anggap excellence, cara terbaik. Kenapa? Karena kita tidak hanya membantu apa yang penelepon butuhkan. Tapi juga mengkonfirmasikannya lagi. Setelah kita menjawab seperti level ke dua di atas dan penelepon bersedia menunggu untuk dibantu dicarikan. Silahkan dengan mengatakan “Maaf sebelumnya, kalau kami boleh tahu nama dan nomor telepon Bapak. Agar bila tiba-tiba telepon ini terputus ketika kami tengah mencari nomor telepon toko bunga yang Bapak butuhkan, kami bisa hubungi Bapak untuk memberitahukannya”. Tapi bila ia meneleponnya ke perangkat smartphone, tentu nomor kontak sudah bisa kita lihat tanpa menanyakannya. Dengan kita memiliki nomor kontak penelepon, setelah kita memberikan nomor kontak Toko Bunga. Jeda sekitar 5 menit, silahkan hubungi ia kembali dan tanyakan “Mohon maaf, kami toko buah yang tadi Bapak hubungi. Apakah nomor kontak Toko Bunga yang kami berikan tadi berhasil terkontak?”. Bila ia membenarkan telah berhasil, kita pun dapat tutup dengan ucapan terima kasih dan berikan support atau doa semoga yang ia memperoleh barang yang diinginkan sesuatu waktunya.

Level ke tiga adalah upaya terpuncak yang bisa kita lakukan. Sepintas memang seperti membuang-buang waktu atau mungkin kita sudah merasa dengan memberikan respon level pertama sudah cukup. Apalagi level kedua, berasa udah kueren banget. Biasakan melakukan level terbaik ini, percaya deh kita sebenarnya tengah mengundang kebaikan untuk datang ke diri kita sendiri dalam bentuk yang lain dan pasti akan ‘dicairkan’ pada saatnya nanti di waktu yang tak disangka-sangka. Melalui layanan prima seperti ini, nggak mustahil kalau si penelepon tersebut malah menambah nomor telepon kita ke dalam daftar phone book nya dan merekomendasikannya kepada orang lain. Dalam dunia bisnis yang menjajakan produk dan layanan, maka penerapan service excellence akan sangat berperan untuk meningkatkan omset perusahaan.

Cerita saya di atas hanyalah satu contoh. Lain ceritanya lagi bila orang yang salah sambung tersebut tengah membutuhkan barang atau bantuan yang teramat darurat, nomor telepon mobil ambulance misalkan, kebayang banget seperti apa urgennya. Bila level ke tiga ini menjadi kecakapan dasar bagi pegiat lembaga sosial, maka dapat menjadi bagian ikhtiar dalam menjaga kepercayaan publik.

Teman-teman, apa-apa yang terjadi hari ini pada diri kita bukan sebuah kebetulan. Hari ini kita bisa belajar bahwa apapun yang tengah kita kerjakan sekarang semata demi menggapai ridho Nya, coba pastikan lagi seberapa manfaatnya untuk diri kita dan orang lain. Bila salah sambung telepon saja sudah dianggap sebuah masalah, biasanya kita akan sesegera mungkin menyingkirkannya. Namun bila kita persepsikan itu adalah tantangan untuk menaikkan lagi level sabar dan syukur kita, ambil kesempatan terbaik dengan kemampuan terbaik yang dimiliki, teruslah perbaiki lagi ke depannya dengan hati yang tenang. Karena sesungguhnya itu adalah kado dari DIA hari ini untuk kita. Allahu ‘alam.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al Ankabut: 2)

“Tujuan utama kita di hidup ini adalah untuk menolong orang lain. Dan jika kamu tidak bisa menolong mereka, paling tidak jangan menyakiti mereka” (Dalai Lama XIV)

Pernah jadi korban salah sambung telepon Atasi dengan 3 cara ini 2

tips cara mudah dibantu jemput zakat via telepon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *